Seperjuangan

Halo! Ini adalah postingan pertamaku menggunakan Bahasa Indonesia dan semoga dapat menghibur kita semua.


Sejak awal Maret, aku dan sebagian besar teman-temanku sudah menyibukkan diri dengan mendaftar ke SMA pilihan kami masing-masing. Aku beserta tujuh orang lainnya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke SMAN 2 Tangerang Selatan, atau lebih dikenal masyarakat sebagai Moonzher. Sekolah yang kami tuju bisa dibilang sebagai salah satu SMA favorit di kota Tangerang Selatan dan kami sadar jika kami diterima di sekolah ini, hal tersebut akan menjadi suatu kebanggan bagi ego tersendiri. Namun agar peristiwa itu dapat terjadi, kami harus melewati banyak sekali rintangan dari luar maupun dari dalam.

Kami adalah murid kelas IX, yang berarti berbagai macam cobaan ujian sudah berada di depan mata. Tentu ini akan sangat memberatkan kami secara fisik dan batin, mengingat banyak sekali yang perlu kami persiapkan. Jujur saja, tidak pernah terlintas di pikiranku kalau rasanya akan seperti ini. Dua minggu setelah terlaksananya UTS, aku harus menghadapi ujian praktek yang seperti namanya, otomatis akan menggunakan lebih banyak usaha dan niat.

Setelah aku berhasil mendaftarkan diri di SMAN 2, aku harus menunggu sampai tanggal 2 April untuk mendapat jadwal Tes Potensi Akademik. Memang sudah diberitahu bahwa TPA akan dilaksanakan pada tanggal 3 – 5 April, namun kami belum mendapat kapan pastinya jatah tes kami masing-masing. Saat waktu tersebut datang, aku kaget. Di antara kedelapan dari kami, hanya aku yang mendapat jadwal tes tanggal 3, sementara yang lainnya mempunyai teman pada hari dan sesi yang sama. Pada saat itu, aku merasa terpuruk. Mengapa? Aku sama sekali tidak tahu letak di mana aku harus tes, oleh karena itu aku harus bertanya, namun social skills yang kumiliki sangat buruk sehingga aku tidak berani untuk bertanya kepada orang lain yang tidak kukenal. Aku tahu bahwa hal ini adalah hal yang buruk, dan aku akan mencoba untuk memperbaikinya.

Singkat cerita, aku berhasil berkenalan dengan anak yang berasal dari sekolah yang sama namun cabang berbeda. Ternyata ia mempunyai hari dan sesi yang sama sepertiku, namun ruangan tes yang berbeda. Berkatnya, aku bisa mengetahui di mana letak-letak isi dari sekolah tersebut. Bless her.

Pengalamanku saat TPA itu.. sangat menegangkan. Saat aku masuk ruangan, ternyata nomor mejaku tidak ada, dan berdasarkan observasi, hanya aku yang mempunyai masalah seperti ini. Oke, pada saat itu aku berusaha untuk tetap tenang dan bertanya pada panitia TPA. Mereka mengatakan bahwa aku duduk saja di tempat yang kosong. Baiklah, dimengerti. Aku tidak tahu apakah aku boleh memberi tahu kalian hal-hal berikut ini, namun ini bagian dari ceritaku.

Kami diberi waktu tiga jam untuk mengerjakan soal-soal TPA yang terdiri atas dua paket soal. Paket yang pertama adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Geografi, dan Ekonomi (yang terdiri dari 20 soal per mata pelajaran). Sementara paket yang kedua adalah Bahasa Inggris (yang terdiri dari 50 soal, jika aku tidak salah). Setiap paket diberi waktu satu setengah jam untuk mengerjakan. Aku tidak dapat mengerjakan mata pelajaran Fisika dan Kimia dengan baik dan benar karena aku sangat membencinya. S a n g a t  m e m b e n c i. Mata pelajaran yang lain baik-baik saja, tidak ada masalah.

Aku mendapati diriku dalam mood yang bad setelah menyelesaikan TPA karena aku tahu bahwa entah bagaimana, aku gagal dalam mengerjakan soal-soal tersebut meskipun sudah melakukannya dengan sungguh-sungguh. Sekitar lima menit kemudian aku mengajak ibuku yang sedari tadi menungguiku untuk pulang saja ke rumah karena aku merasa tidak ingin lagi menjalankan hari tersebut.

Aku menceritakan teman-teman seperjuanganku tentang peristiwa yang baru saja kualami. Menyedihkan, memang, jika dilihat kembali. Aku tahu bahwa ini adalah persaingan dengan satu sama lain, namun alangkah lebih baiknya jika kami berdelapan dapat diterima. Oleh sebab itu, aku memberi tahu mereka tentang bagaimana yang akan mereka hadapi saat TPA. Mereka sangat menghargai keputusanku untuk memberi tahu, karena mereka juga sangat gugup menghadapi TPA.

Setelah kami semua selesai dengan jadwal tes masing-masing, kami dapat memilih hari dan tanggal untuk psikotes. Tentu saja, kami memilih tanggal yang sama yaitu pada Sabtu, 8 April. Namun sedihnya, ruangan psikotes kami juga berbeda-beda.

Psikotes berlangsung dari jam tujuh pagi sampai kurang lebih jam satu siang. Memang, sangat melelahkan. Kami mengerjakan berbagai macam tugas dari pengawas yang begitu menguras pikiran. Salah satu bentuk tes yang akan terus saya kenang adalah Kraepelin, yaitu tes yang meminta kami untuk menjumlahkan dua angka yang berdekatan dalam waktu tertentu. Suasana pada saat itu sangatlah sunyi, hanya diiringi gesekan pensil dan suara keluhan dari murid-murid lain. Aku berusaha untuk fokus, namun tetap saja pikiranku ke mana-mana. Ada satu tes lagi yang akan kuingat juga, sayangnya aku tidak mengetahui namanya. Kami diberikan sebuah kertas yang terdapat banyak lingkaran tersusun. Perintahnya adalah kami harus menggambar apa pun yang kami mau, namun harus melibatkan lingkaran tersebut sebanyak-banyaknya. Mungkin aku tidak menjelaskannya dengan baik namun kurang lebih seperti itu. Pada akhir psikotes, aku diminta oleh salah satu pengawas ruanganku untuk mengerjakan ulang tes tersebut, karena apa yang telah aku kerjakan sebelumnya dikatakan “tidak dapat dinilai”. Oh, wow. Mulai detik itu aku beranggapan bahwa gambarku terlalu bagus sehingga tidak dapat dinilai. Setelah menyelesaikan semuanya, aku dan teman-temanku berteman dengan pengawas yang berada di ruanganku. Entah mengapa.

Berikut adalah hasil dokumentasiku setelah psikotes bersama teman-teman:

This slideshow requires JavaScript.

Jadwal kami selanjutnya adalah wawancara. Sebenarnya, yang datang ke wawancara ini adalah orang tua, kehadiran kami tidak terlalu dipentingkan sehingga aku tidak akan bercerita tentang ini.

Sekarang yang kami lakukan adalah menunggu hasil seleksi masing-masing. Pengumuman diadakan pada tanggal 10 Mei pada web PPDB SMAN 2. Kami masih memiliki waktu sekitar sebulan sehingga kami tidak terlalu memikirkan hasil seleksi, namun ujian-ujian yang akan kami hadapi di sekolah.

Saat waktunya tiba, aku merasa sangat gugup. Aku berpikir, bagaimana jika semua teman-temanku diterima, namun aku tidak? Banyak sekali hal-hal buruk yang kupikirkan, namun di sisi lain aku juga berharap kami semua dapat diterima dan dapat menjalani tiga tahun bersama lagi. Saat kucek, tentu saja aku kaget.

1494421518560

Hehe.

Ternyata bukan aku saja, semua temanku yang lainnya juga menerima hasil seleksi yang sama, kecuali satu. Temanku yang ini diterima bersekolah di SMAN 2. Walaupun aku kecewa pada diriku sendiri, aku tidak bisa tidak merasa sangat bangga padanya. Kami mengucapkan selamat dan menyemangati satu sama lain. Sakit hati, sih, namun apa lagi yang harus kami lakukan? Peristiwa ini kujadikan pengalaman dan pelajaran. Kami melewati semuanya bersama-sama, dan mendapatkan hasil yang sepantasnya. Entah bagaimana, kuyakin ikatan pertemanan kami dipererat karena hal-hal yang kami lalui bersama ini. Ugh. Godspeed, teman-teman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s